Luka, Cinta dan Pemulihan

Kisah Para Rasul 15 : 1-21

16 Agustus 2026

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Luasnya menempati posisi ke-14 negara terbesar ke dunia. Jumlah penduduknya terbesar ke-4 di dunia, alamnya kaya, flora dan faunanya beragam. Bahkan, Kerajaan Indonesia pernah berjaya. Ketika masih belum terbentuk nation-state, beberapa bagian dari Indonesia menjadi kerajaan besar dan ternama, seperti Sriwijaya di Sumatera (abad ke-7) dan Majapahit di Jawa (abad ke-13). Dua kerajaan ini menguasai wilayah yang cukup luas dan terkenal hingga mancanegara. Di masa kolonial, kerajaan-kerajaan di Indonesia kemudian menjadi satu dan berhasil mengusir kolonialisme dengan kekuatan dan keberaniannya.

Akan tetapi, sama seperti Naaman, ia menyimpan “luka” yang disebabkan banyak hal seperti korupsi, ketidakadilan, pelanggaran HAM yang belum terselesaikan, penyalahgunaan kekuasaan, kerusakan lingkungan hidup karena eksploitasi tambang dan penebangan pohon. Luka tersebut membuat kebesaran Indonesia tidak dapat membuat rakyatnya sejahtera. Di Indonesia, ketimpangan sosial dan ekonominya masih sangat tinggi.

Pada momen hari ulang tahun ke-81, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, umat diajak berefleksi dan menunjukkan cintanya kepada bangsa ini. Umat diharapkan meneladani gadis pelayan istri Naaman yang punya keyakinan dan mau berbuat sesuatu untuk memulihkan Naaman. Sama seperti gadis pelayan istri Naaman, yang secara sosiologis kecil, umat Kristen bisa dipakai Tuhan untuk berbuat hal yang penting dan besar bagi bangsa Indonesia. Umat Kristen bisa menjadi minoritas yang kreatif, transformatif dan berdampak. Itu dapat diwujudkan jika umat memiliki keyakinan bahwa dirinya adalah alat Tuhan yang memulihkan. Ketika umat menunjukkan solidaritas dan menghidupi panggilan profetik bagi bangsa Indonesia karena berharap Indonesia mengalami pemulihan.

Disalin dari Dian Penutun 41, hal 104